KaTarNews. Malam Satu Suro adalah malam pergantian tahun baru dalam penanggalan kalender Jawa, yang jatuh pada tanggal 1 Suro. Waktu ini bertepatan dengan tanggal 1 Muharam dalam kalender Islam. Bagi masyarakat Jawa, malam ini dianggap malam yang cukup sacral,yang biasanya diisi dengan berbagai prosesi atau ritual budaya Jawa secara turun temurun, seperti jamasan pusaka, grebeg dan beberapa acara lain. Namun sejatinya malam 1 Suro tidak hanya sebuah awal pergantian tahun, di dalamnya mengandung makna sebagai momen melakukan instrospeksi diri, ritual pensucian diri, dan doa memohon keselamatan.
Tradisi Kirab Malam 1 Suro di Kabupaten Kebumen dikenal dengan acara Grebeg Sura Merti Jagad Kabumian. Acara yang dipusatkan di sekitar Pendopo Kabumian dan Alun-Alun Pancasila. Acara terbuka untuk umum yang diikuti oleh perwakilan OPD membersamai Bupati dan Wakil Bupati Kebumen. Tampak beberapa pengurus Karang Taruna Kabupaten Kebumen, ikut dalam acara kirab malam 1 Suro ini. Acara dimulai dengan menampilkan arak-arakan pusaka, kirab budaya, doa bersama, serta rebutan gunungan hasil bumi.
Tradisi kirab malam 1 Suro masih dipertahankan Pemerintah Daerah sampai saat ini, sebab masih dianggap sebagai bentuk pelestarian budaya (nguri-uri budaya Jawa) sekaligus memohon keselamatan dan keberkahan bagi masyarakat Kebumen.
Awal tradisi malam 1 Suro sudah ada pada masa Raja Mataram Islam, Sultan Agung, pada abad ke-17. Ia menyatukan sistem penanggalan kalender Hijriah (Islam) dengan penanggalan Saka (Hindu). Malam Satu Suro dimaknai sebagai momen spiritual untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, mengevaluasi kesalahan masa lalu, dan membersihkan jiwa agar terhindar dari mara bahaya di tahun yang baru berikutnya (red-KaTar)